Malam itu, Pak Rafa duduk sendirian di koridor rumah sakit.
Tangannya memegang ponsel.
Ia membuka percakapan terakhirnya dengan Raka.
Pesan terakhir Raka masih ada di sana.
“Yah, nanti pulang agak sore. Ada kegiatan sekolah.”
Pak Rafa membaca kalimat itu berulang kali.
Air matanya jatuh.
“Kenapa Ayah nggak tahu kalau itu pesan terakhirmu, Nak…”
Ia mematikan layar ponselnya.
Namun kenangan tentang Raka tidak pernah ikut mati.
Beberapa hari kemudian, Doni kembali ke sekolah.
Ia masuk ke kelas seperti biasa.
Namun ada sesuatu yang berbeda.
Bangku di sebelahnya kosong.
Bangku milik Raka.
Doni menatap meja itu cukup lama.
Di atasnya masih ada sebuah buku yang belum sempat dibawa pulang.
Doni mengambil buku tersebut.
Ia membuka halaman terakhir.
Ada tulisan tangan Raka:
“Jangan lupa bahagia, Don.”
Doni tersenyum kecil.
Air matanya kembali jatuh.
“Harusnya kamu masih di sini, Rak.”
Waktu terus berjalan.
Kegiatan sekolah kembali berlangsung.
Teman-teman kembali bercanda.
Pelajaran kembali berjalan.
Tetapi bagi Doni dan Pak Rafa, ada satu ruang kosong yang tidak pernah benar-benar terisi.
Pak Rafa masih mengajar seperti biasa.
Setiap kali melihat siswa seusia Raka, ia teringat anaknya.
Kadang ia tersenyum.
Kadang ia menangis diam-diam.
Namun ia belajar menerima bahwa hidup harus terus berjalan.
Bersambung ke bagian 5
Belum ada komentar yang disetujui untuk info ini.